r i m p a n g

bertumbuh keluar


Titip Salam untuk Tuhan

16 Maret 2020 | 2 menit

Sampai setahun yang lalu, kita masih mengakrabi kota dengan curah hujan berlebih ini. Aku tak begitu yakin, tapi seingatku hanya sedikit kisah indah yang terjadi dahulu. Tejebak hujan di dekat taman kota, kelaparan di pondokanku, mendorong motor menuju pom bensin, terjebak hujan lagi di depan minimarket, dan aku masih bisa membuat catatan lain tentang betapa sialnya perjalanan kita berdua. Akan tetapi, katamu, setidaknya untuk waktu itu, segala kesialan tersebut bukanlah sebuah masalah. Asal masih bersama, apa lagi yang perlu ditakutkan? Selain azab tuhan tentu saja. Oh iya, ngomong-ngomong tentang tuhan, titipkan salamku untuknya, semoga kelancaran selalu menyertai segala macam hal yang diurusinya.

Bulan-bulan terakhir hubungan kita, yang sebenarnya tak begitu jelas namanya. Serius, aku tak bisa menyebut sepasang kekasih pada mereka yang setiap saat saling mengumpat satu sama lain. Namun, adakah musuh yang saling berbagi peluk dan cium? Entahlah. Untuk mempermudah segala hal, anggap saja saat itu kita menjalin sebuah hubungan.

Kau tampak uring-uringan. Kau meracau tentang ini-itu, tentang masa depan yang nampak suram, tentang cinta dan keterikatan, serta berbagai macam omong kosong lainnya. Saat itu, kau begitu yakin. Kau begitu yakin bahwa tak ada harapan untuk kita. Harus kuakui, dengan keyakinanmu tentang masa depan itu, kau bisa saja memerankan tokoh yang datang dari tahun 2033 dalam salah satu naskah busukku; atau setidaknya, peran pembaca tarot di pinggir jalan; atau menjadi nenek-nenek sok tahu yang terus menceramahi cucunya yang nakal; atau dukun palsu yang memiliki obat untuk segala penyakit; atau apa pun itu tak kan jadi masalah, karena kau bisa menjadi siapa pun yang kau mau.

Mungkin, kau belum pernah membaca tulisan George Sugiharto, tetapi percayalah padaku, di dalam novelnya yang berjudul “Keadilan dan Omong Kosong Lain yang Harus Ada” ia menitipkan pesan bahwa di dunia ini keadilan adalah humor paling tua dan humor akan kehilangan hakikatnya saat terlalu sering dikisahkan. Kau tak bisa berbuat apa pun untuk membuat keadilan lucu kembali. Kau hanya perlu belajar. Kau hanya perlu belajar menerima kenyataan. Kau hanya perlu belajar menerima kenyataan bahwa hidup memang hanya begitu-begitu saja.

Dua atau tiga tahun lagi mungkin keadaan akan lebih sulit, terutama untukku.


oleh sotongcabeijo, ditulis sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, penulis bisa ditemui di twitter