r i m p a n g

bertumbuh keluar


Darah, Kabel, Musik, dan peluruhan

16 Maret 2020 | 5 menit

Berlari selalu menjadi kesempatan terbaikku untuk bisa menyepi. Meski kini kita tak lagi melakukannya untuk berburu makanan dan bertahan hidup, bagiku berlari masih merupakan sebuah aktivitas yang begitu natural, sederhana, sekaligus pengalaman terbaik untuk menyatu dengan dirimu sendiri maupun dengan alam sekitarmu.

Dulu aku sering mendengar bagaimana orang-orang yang gemar jalan kaki atau berlari merasa kurang nyaman mendengarkan musik saat mereka melakukannya, terutama dari orang-orang yang lebih tua dariku. Aku pun sempat berpikiran seperti itu, awalnya aku hanya akan berlari membawa walkman atau handphone milikku saat sedang benar-benar stress dan membutuhkan distraksi sebesar mungkin dari kejengahan keseharianku. Tak lama kemudian, aku mulai merasa bahwa memanfaatkan teknologi dalam ritual rutinku tersebut adalah hal yang natural pula. Apa bedanya mendengarkan musik dari walkman atau handphone dengan menggumamkan lagu dalam kepalamu, dua-duanya adalah teknologi, bahasa adalah salah stau teknologi paling kuno yang diciptakan manusia. Lambat laun aku tak bisa lagi membayangkan bila harus berlari tanpa musik, aku mulai mencoba mencari piranti pemutar musik terbaik yang bisa kubeli dengan penghasilanku dan membaca berbagai macam ulasan tentangnya di internet untuk menemukan yang paling nyaman untukku.

Selepas menyelesaikan rutin pagi dan mengenakan sepatu lariku, aku akan segera bergegas keluar untuk berlari berkeliling, tetapi tidak sebelum menyiapkan pemutar mp3 milikku. Secara reflek, aku akan segera memasang earphone di kedua telingaku, menelusupkan kabelnya lewat bawah kausku agar tak berayun-ayun liar saat aku berlari, kabelnya yang menempel langsung dengan kulitku memberikan kesan efisien. Aku kemudian meletakkan pemutar mp3ku pada ban lengan yang kubeli dari Shopee, memasangnya erat di lengan kiriku. Aku sering berharap kesemuanya bisa lebih permanen dan tanpa perlu bergeser atau melonggar saat aku berlari. Hitam berkilat di lengan kiriku dan kini aku sudah siap, sekarang aku adalah sebuah cyborg.

Saat berlari, aku bisa mengganti lagu ataupun mengatur volume dengan mudah menggunakan tangan kananku seolah tombol-tombolnya tertempel di lengan kiriku. Selain berkas yang tersimpan dalam pemutar musik mp3 milikku, aku pun kadang mendengarkan berbagai stasiun radio dari situ. Saat berlari, aku sering merasa terbungkus dalam sebuah sistem canggih yang mengirimkan lagu-lagu dari antah berantah menuju ke dalam rongga telingaku yang kemudian diproses serta dan oleh tubuhku layaknya bahan mentah yang menjadi sumber energi dalam aliran darahku.

Musik yang aku dengarkan saat berlari memang menjalar ke sekujur tubuhku, mempengaruhinya layaknya nutrisi pada makanan kita sehari-hari. Kesemuanya menyediakan energi untukku saat berlari menyusuri trotoar dan jalanan aspal, pematang dan jalanan becek berlumpur, makadam dan gang kecil di tengah kampung. Saat lagu favoritku terputar, aku sering merasa badanku menjadi begitu ringan. Saat terputar lagu yang kurasa tak cocok dengan mood saat itu, aku bisa dengan mudah menggantikannya dengan lagu berikutnya. Lagu-lagu itu mempengaruhi tubuhku secara unik, rasa-rasanya darah dan dagingku pun menyesuikan diri merespon teknologi yang terjalin menjadi satu dengan tubuhku.

Ketukan musik kadang terasa seperti sebuah komando bagiku, mengarahkan langkah kakiku mengikuti irama. Setiap kali telapak kakiku menapak di tanah, dentuman musiknya pun akan menjalar ke sekujur tubuhku. Saat musik bertempo cepat terputar, kadang sulit untuk tak berlari lebih cepat pula, rasanya kedua kakiku terhubung langsung dengan pemutar mp3 yang ada di lengan kiriku dan sudah terprogram sedemikian rupa mengikuti gelombang suara yang dipancarkan dari menara-menara di luar pandangan mataku atau algoritma rumit yang menyusun berkas musik-musikku.

Berlari sambil mendengarkan musik, seolah masuk ke dalam duniaku sendiri, dunia yang sama sekali lain dengan lingkungan sekitarku. Apa pun yang ada di sekelilingku kini tak relevan lagi dan begitu pula tubuhku yang melaju di antara kesemuanya seolah tak terlihat. Setiap irama dan syair dari musik yang kudengar saat berlari terasa menjadi jauh lebih intens, aku bisa saja mendengarkan musik yang sama dari tape atau komputer di kamarku, tetapi kesemuanya akan terasa jauh berbeda. Menghindari kios-kios pedagang kaki lima, motor dan mobil berlalu melewatiku, semua orang melanjutkan perjalanan mereka seperti biasanya tanpa ada seorang pun yang memperhatikanku. Pikiranku pun saat itu akan menjadi begitu jernih, ide-ide berdatangan begitu saja dan visualisasi untuk segala macam permasalahan pun bermunculan membanjiri kepalaku. Rencana, jadwal, dan pilihan-pilihan atas berbagai macam dilema, jarang sekali aku bisa merasakan pengalaman serupa pada rutinitas lain dalam keseharianku.

Langkah kakiku akan melambat saat aku mendekai rumah, setibanya di sana aku harus segera menanggalkan dunia fantasi yang kuciptakan saat aku mengoperasikan tombol-tombol di lengan kiriku. Aku akan mematikan pemutar mp3, melepas segala macam prostetik yang menempel di tubuhku, melepas panel kontrol di lengan kiriku, aku pun seketika kembali menuju keheningan dan derau realitas keseharianku. Pada saat-saat seperti ini aku sering limbung, biasanya aku perlu beberapa menit sebelum akhirnya bisa kembali tersadar sepenuhnya. Kadang aku akan merasakan kekosongan sekaligus kepuasan tersendiri setelah menghabiskan waktu bersama teknologi musik, radio, dan sebuah sistem portabel. Aku bisa saja kembali menyalakan musik dalam kamarku, tetapi kesemuanya takkan sama. Musiknya bukan lagi milikku sendiri, musik yang terdengar dari pengeras suara komputerku harus kubagi dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingku.

Selepas ritual pagiku, aku akan bergegas melakukan aktivitas rutin lainnya. Dari pagi hingga menjelang malam, kemungkinan besar takkan ada pengalaman serupa dengan yang bisa kudapatkan dari berlari bersama pemutar musik mp3 murahan milikku yang datang dari negeri Cina. Aku tak lagi sebuah cyborg, tetapi aku masih bisa mengalami transformasi indah itu pada pagi-pagi berikutnya.


oleh helen